Pernah nggak sih perhatiin kenapa gerai kopi kekinian selalu rame antrian padahal harga kebutuhan pokok terus melambung naik? Atau kenapa masih ada yang melahap habis jajanan viral yang harganya tidak murah padahal banyak orang mengaku sedang berhemat? Fenomena inilah yang dalam ilmu perilaku konsumen dikenal dengan istilah Lipstick Effect dan ternyata, ceritanya jauh lebih menarik dari sekadar soal gengsi semata.
Apa
itu Lipstick Effect? Istilah ini mengacu pada kecenderungan orang untuk terus
membeli barang-barang kecil yang memberikan kepuasan instan meskipun keadaan
ekonomi buruk. Lipstik, kopi, jajanan viral, dan produk perawatan kulit adalah
beberapa contoh barang-barang "kemewahan kecil" yang lebih murah
daripada barang mewah pada umumnya. Sebaliknya, orang tidak belanja sama sekali.
Konsep ini pertama kali dirumuskan secara ilmiah oleh peneliti
asal Amerika Serikat Hill, S.E, dan rekannya pada tahun 2012. Mereka menemukan
bahwa keinginan orang untuk produk-produk peningkat penampilan diri meningkat
sebagai akibat dari sinyal resesi ekonomi, sementara keinginan untuk barang
lain, seperti elektronik, menurun..
Siapa
yang mengalaminya, dan kapan? Awalnya fenomena ini diamati pada masa Resesi
Besar Amerika Serikat di akhir 2000-an, ketika penjualan lipstik justru naik
saat sektor lain lesu. Namun ternyata, pola ini bukan gejala satu krisis saja.
Riset-riset setelahnya menunjukkan pola serupa berulang setiap kali masyarakat
menghadapi ketidakpastian ekonomi termasuk selama pandemi Covid-19, ketika
belanja produk kecantikan justru kembali menanjak di tengah pembatasan sosial
dan tekanan finansial. Generasi muda, terutama Gen Z, kini menjadi kelompok
yang paling sering disorot mengalami pola seperti ini. Mereka tumbuh di tengah
kemudahan transaksi digital, serta paparan gaya hidup di media sosial yang
tiada henti.
Di
mana fenomena ini terlihat nyata? Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh dari
luar negeri fenomena ini terjadi tepat di depan mata kita. Berdasarkan laporan
berita Metro TV News kemarin, Festival lifestyle di Jakarta misalnya tetap
ramai pengunjung yang ingin berbelanja meski kondisi perekonomian tidak pasti.
Ekonom yang melihat fenomena ini merasa pola belanja semacam ini memang membawa
sisi positif, karena tetap menjaga perputaran roda ekonomi. Namun ia juga
mengingatkan adanya risiko jangka panjang: apabila dana yang semestinya
dialokasikan untuk kebutuhan pokok terus-menerus dialihkan untuk kebutuhan
tersier, daya beli masyarakat justru bisa tergerus perlahan.
Mengapa
orang tetap melakukannya? Jawabannya ternyata bukan sekadar soal gengsi. Banyak
orang yang ditanya langsung mengenai kebiasaan belanja mereka mengaku bahwa
membeli barang-barang kecil semacam ini adalah bentuk self-reward cara
sederhana untuk menjaga kesehatan mental, memberi kebahagiaan singkat,
sekaligus memotivasi diri untuk terus bekerja keras di tengah tekanan hidup dan
target yang sulit dicapai. Dengan kata lain, belanja kecil ini menjadi semacam
"katup pelepas" di tengah beban ekonomi yang berat cara murah untuk
tetap merasa baik-baik saja.
Bagaimana
cara menyikapinya dengan bijak? Di sinilah pentingnya dua hal yang sering diabaikan
dan hal itu ialah, pengetahuan keuangan digital dan kemampuan mengendalikan
diri (self control). Menggunakan dompet digital dan layanan paylater
membuat belanja terasa lebih mudah secara psikologis, tetapi tetap ada
konsekuensi finansial. Kemudahan ini bisa dimanfaatkan menjadi keputusan
belanja yang tetap terencana bagi mereka yang pandai menghitung uang.
Sebaliknya, kemudahan yang sama dapat berubah menjadi jebakan konsumtif yang
perlahan menghabiskan uang kita.
Lipstick
Effect, pada akhirnya, bukan sekadar fenomena unik yang layak dibahas sebagai
obrolan ringan. Ia adalah cerminan bagaimana manusia menghadapi tekanan ekonomi
tidak selalu dengan cara yang paling rasional, melainkan juga dengan cara yang
paling manusiawi: mencari kebahagiaan kecil di tengah keresahan besar. Yang
membedakan apakah kebiasaan ini akan tetap sehat atau berujung masalah,
sesungguhnya terletak pada seberapa sadar kita mengelola dorongan tersebut cukup
sesekali sebagai penyegar, atau justru menjadi pelarian yang tak terkendali.
Jadi,
jika tergoda untuk membeli kopi kekinian di tengah bulan yang menipis di masa
depan, sedikit "kemewahan kecil" itu tidak masalah selama kita tahu
kapan harus berhenti.
Hill,
S. E., Rodeheffer, C. D., Griskevicius, V., Durante, K., & White, A. E.
(2012). Boosting beauty in an economic decline: Mating, spending, and the
lipstick effect. Journal of Personality and Social Psychology, 103(2),
275–291. https://doi.org/10.1037/a0028657
Metro
TV News. (2026). Fenomena "Lipstick Effect" di Tengah Kondisi
Ekonomi Sulit - Newsline [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=Y2eg2x4Gktc
Penulis: Putri Khaerunnisa
.jpeg)
Posting Komentar untuk "Lipstick Effect: Ketika Dompet Menipis, Gengsi Tetap Jalan"