Di era media sosial saat ini, Gen Z memiliki fenomena unik: memiliki dua akun di platform yang sama yaitu akun utama (main account) dan akun kedua (second account atau "finsta"). Kedua akun ini menampilkan dua versi yang sangat berbeda dari individu yang sama. Akun utama menampilkan kehidupan yang dikurasi dengan sempurna, sementara akun kedua menjadi ruang untuk ekspresi yang lebih jujur dan personal. Fenomena ini mengungkapkan dialektika kompleks antara persona publik dan autentisitas dalam konstruksi identitas digital Gen Z.
Akun utama berfungsi sebagai "wajah publik" di dunia digital. Setiap konten dipilih dan diedit dengan cermat foto-foto estetik, caption yang diperhitungkan, dan feed yang mencerminkan personal branding. Konten cenderung menampilkan momen terbaik seperti liburan, pencapaian akademik, outfit stylish, dan aktivitas sosial yang menyenangkan. Filter dan editing memastikan setiap foto terlihat sempurna. Follower mencakup spektrum luas yaitu teman, keluarga, rekan kerja, bahkan orang asing. Akun utama adalah highlight reel kehidupan versi terbaik yang ingin ditunjukkan kepada dunia.
Sebaliknya, akun kedua atau "finsta" beroperasi dengan logika berbeda. Username acak, tidak menggunakan nama asli, dan follower dibatasi pada sahabat terdekat. Di sini, tidak ada tekanan untuk tampil sempurna. Foto bisa buram atau jelek. Konten lebih personal dan vulnerable: foto menangis, keluhan tentang kuliah, meme self-deprecating, atau momen random yang tidak "instagrammable". Tidak ada filter atau caption dipoles hanya kejujuran mentah. Akun kedua adalah safe space untuk ventilasi emosi dan menunjukkan sisi kehidupan yang tidak sempurna tanpa takut dihakimi.
Perbedaan ini mengungkap kontradiksi fundamental dalam budaya media sosial Gen Z. Akun utama memenuhi fungsi sosial-profesional: networking, personal branding, dan reputasi online. Namun tekanan konstan untuk tampil sempurna sangat melelahkan. Perbandingan sosial, FOMO, dan anxiety tentang validasi sosial menciptakan beban mental berat. Akun kedua memenuhi kebutuhan psikologis berbeda: autentisitas, penerimaan apa adanya, dan koneksi genuine. Fenomena ini mencerminkan fragmentasi identitas di era digital Gen Z memisahkan persona publik dari diri yang lebih pribadi dan vulnerable.
Namun, muncul pertanyaan filosofi jika kita menampilkan versi berbeda di berbagai akun, mana yang "asli"? Beberapa psikolog berpendapat pemisahan ini sehat memberikan kontrol atas privasi. Yang lain khawatir ini memperdalam disconnect antara public self dan authentic self. Yang jelas, fenomena ini mengungkapkan ketegangan inti pengalaman media sosial Gen Z: antara impressive dan expressive, antara membangun image dan menjadi diri sendiri. Gen Z telah menemukan solusi kreatif dengan menciptakan dua ruang digital berbeda. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan sehat, di mana Gen Z bisa navigate ruang publik dengan percaya diri tanpa kehilangan sentuhan dengan diri mereka yang autentik.
Penulis: Rahmawati Nasrul
Posting Komentar untuk "Essai Bulan Oktober: "Dua Wajah Gen Z: Dialektika Persona Publik dan Autentisitas di Media Sosial""