Fenomena meningkatnya konsumsi kopi di kalangan Generasi Z menjadi perhatian banyak pihak dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, dikenal sebagai kelompok yang sangat terhubung dengan teknologi digital serta memiliki pola konsumsi berbeda dari generasi sebelumnya. Salah satu ciri khas yang menonjol ialah ketertarikan mereka terhadap kopi dan budaya kafe. Aktivitas minum kopi tidak lagi dimaknai sebagai pemenuhan kebutuhan energi, melainkan bentuk gaya hidup, sarana bersosialisasi, dan simbol identitas diri di era modern.
Data Toffin Indonesia (2023) menunjukkan bahwa konsumsi kopi di Indonesia meningkat hingga 13,9% per tahun, dengan sebagian besar konsumen berasal dari kalangan muda, terutama Gen Z dan milenial. Kafe modern, mulai dari jaringan internasional hingga kedai lokal, menjadi ruang sosial dan produktif bagi anak muda. Pergeseran makna terhadap kopi tampak jelas dari sekadar minuman menjadi simbol gaya hidup urban. Jean Baudrillard (1998) menjelaskan bahwa fenomena semacam ini merupakan bentuk “simbolisasi konsumsi,” ketika individu membeli produk bukan semata karena fungsi, tetapi karena makna sosial dan identitas yang melekat padanya.
Kopi bagi Generasi Z merepresentasikan pengalaman, bukan sekadar rasa. Aktivitas ngopi di kafe dengan desain estetik sering diabadikan dan dibagikan melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter). Tren ini membentuk realitas sosial baru di mana “ngopi” menjadi bagian dari eksistensi digital seseorang. Hidayat (2022) dalam jurnal Cultural Studies Review Indonesia menegaskan bahwa media sosial berperan besar dalam membentuk budaya ngopi anak muda karena memberikan nilai simbolik pada aktivitas sederhana. Kopi akhirnya berubah menjadi alat ekspresi diri dan sarana komunikasi sosial, bukan hanya kebutuhan konsumsi harian.
Fenomena tersebut memunculkan berbagai problematika. Dari sisi ekonomi, frekuensi kunjungan ke kafe dapat mendorong perilaku konsumtif. Penelitian Nugroho dan Fitria (2022) menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran Gen Z untuk kopi dan kafe mencapai 20–30% dari pendapatan bulanan, menandakan adanya pergeseran prioritas keuangan pribadi. Dari sisi kesehatan, konsumsi kafein berlebih menimbulkan gangguan tidur, kecemasan, dan ketergantungan psikologis. Kebiasaan ngopi di kalangan Gen Z perlu ditinjau secara kritis sebagai pola konsumsi yang berdampak pada aspek ekonomi dan kesejahteraan individu.
Budaya ngopi juga memiliki nilai positif yang signifikan. Kafe dan kedai kopi berfungsi sebagai ruang sosial bagi anak muda untuk bekerja, berdiskusi, berjejaring, dan berkarya. Dalam bidang ekonomi kreatif, budaya ngopi mendorong ekosistem produktif yang mendukung wirausaha muda, barista lokal, serta industri kopi Nusantara. Data Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF, 2024) menunjukkan bahwa sektor kopi berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia dengan nilai ekspor lebih dari 1,2 miliar dolar AS. Fenomena ini memperkuat ekonomi lokal dan menciptakan peluang usaha baru.
Secara sosiologis, meningkatnya konsumsi kopi mencerminkan kebutuhan Generasi Z akan ruang sosial nyata di tengah kehidupan digital yang serba cepat. Kafe menjadi tempat pelarian dari rutinitas daring yang melelahkan dan wadah untuk membangun relasi sosial yang autentik. Erving Goffman (1959) menilai bahwa interaksi sosial semacam ini merupakan bagian dari “panggung depan” kehidupan sosial, tempat individu menampilkan diri serta membentuk citra sosial yang diinginkan. Kopi berfungsi sebagai medium performatif dalam membangun identitas sosial Gen Z.
Kesimpulannya adalah meningkatnya konsumsi kopi di kalangan Generasi Z merupakan fenomena multidimensional yang melibatkan bidang sosial, ekonomi, budaya, dan psikologis. Kopi bergeser dari kebutuhan menjadi simbol gaya hidup dan sarana ekspresi diri. Gaya hidup ini mengandung paradoks antara produktivitas dan konsumerisme, sehingga keseimbangan menjadi hal penting. Generasi Z perlu menumbuhkan kesadaran kritis terhadap makna konsumsi dan dampaknya terhadap diri sendiri. Pada akhirnya, ungkapan “ngopi dulu baru hidup” mencerminkan bukan hanya kenikmatan secangkir kopi, tetapi juga pencarian makna hidup di tengah budaya modern yang cepat dan simbolik.
Penulis: Anisa Wulandari
Posting Komentar untuk "Essai Bulan Oktober: "Ngopi Dulu, Baru Hidup: Ketika Kopi Jadi Gaya Hidup Generasi Z""