Essai Bulan Oktober: "Ekonomi Brain Rot: Saat Scroll Jadi Investasi Terburuk"

Fenomena brain rot kini menjadi cerminan baru dari perilaku masyarakat di era digital. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang menghabiskan waktu berlebihan untuk mengonsumsi konten singkat dan bersifat hiburan seperti video di TikTok, Reels, atau YouTube Shorts hingga kehilangan fokus dan produktivitas. Dalam konteks ekonomi digital, perhatian manusia telah menjadi komoditas bernilai tinggi. Platform media sosial bersaing untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, menjadikan “waktu scroll” sebagai bentuk investasi yang justru merugikan pengguna itu sendiri. Menurut Anggi Novita Sari dkk. (2025) sektor ekonomi digital di Indonesia menyumbang sekitar 7,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2024, dengan potensi pertumbuhan hingga 10,3% per tahun. Kontribusi ini membuktikan bahwa aktivitas digital memiliki nilai ekonomi yang signifikan.

Di sisi lain, konsumsi digital yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap produktivitas individu, terutama pada kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep ekonomi perhatian (attention economy) di mana perhatian manusia dianggap sebagai sumber daya langka yang dapat “dimonetisasi”. Dalam perspektif ekonomi, waktu dan fokus dapat dipandang sebagai “aset tak berwujud” yang nilainya menyusut akibat distraksi digital. Sama seperti aset tetap yang mengalami depresiasi, fokus manusia juga dapat menurun nilainya ketika terus diinvestasikan pada aktivitas non-produktif. Setiap menit yang dihabiskan untuk scrolling tanpa tujuan merupakan opportunity cost, yaitu hilangnya kesempatan untuk menggunakan waktu secara lebih bernilai, misalnya untuk belajar atau bekerja. Penelitian Lokot Muda Harahap dkk. (2025) juga menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi digital memang membuka peluang kerja baru hingga 3,7 juta lapangan kerja di Indonesia. Namun, mereka mencatat adanya peningkatan signifikan pada perilaku konsumtif digital, terutama di kalangan usia produktif 18–30 tahun, yang mencapai 62% dari total pengguna aktif internet. Tingginya paparan konten ringan di media sosial dapat mengurangi kemampuan fokus dan konsentrasi jangka panjang, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas kerja dan kualitas hasil belajar.

Meski demikian, tidak semua dampak digitalisasi bersifat negatif. Hasil riset Cindy Merni Maulidina dan Lu’lu’ Nafiati (2025) menunjukkan bahwa penerapan sistem informasi akuntansi berbasis digital dan strategi digital marketing mampu meningkatkan kinerja UMKM hingga 35% di wilayah Yogyakarta. Hal ini membuktikan bahwa pemanfaatan teknologi dapat memberikan efek positif bila digunakan secara terarah dan produktif. Kunci utama terletak pada kesadaran digital (digital mindfulness). Jika dalam investasi keuangan dikenal istilah Return on Investment (ROI), maka dalam konteks ini kita dapat memperkenalkan konsep baru yaitu Return on Attention (RoA) seberapa besar nilai yang diperoleh dari perhatian dan waktu yang dihabiskan.

Seseorang dengan tingkat RoA rendah akan lebih mudah terdistraksi dan kehilangan nilai produktif dari waktunya, sedangkan individu dengan RoA tinggi mampu memanfaatkan waktu daring untuk pembelajaran, pengembangan diri, dan peningkatan nilai ekonomi personal. Pada akhirnya, fenomena brain rot menjadi pengingat bahwa sumber daya paling berharga di era digital bukan hanya uang, tetapi juga fokus dan waktu. Dua hal ini tidak dapat diperbarui seperti saldo rekening atau paket data sekali hilang, yang nilainya tidak dapat dikembalikan.

“Setiap scroll adalah transaksi tak terlihat, layar yang bergerak, waktu dan perhatian yang perlahan lenyap.”

Penulis: Fathimah Aulia Hafshah

Referensi:

Anggi Novita Sari, dkk. (2025). Analisis Peran Ekonomi Digital Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Riset, Vol. 15, No. 2.

Lokot Muda Harahap, dkk. (2025). Perkembangan Ekonomi Digital dan Dampaknya Terhadap Ketenagakerjaan di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Manajemen, Vol. 8, No. 1.

Cindy Merni Maulidina & Lu’lu’ Nafiati. (2025). Penerapan Sistem Informasi Akuntansi, Digital Marketing dan E-Commerce untuk Meningkatkan Kinerja UMKM. Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan.

Posting Komentar untuk "Essai Bulan Oktober: "Ekonomi Brain Rot: Saat Scroll Jadi Investasi Terburuk""