Esai Bulan November: "KULIAH ITU ABSURD"

Di jantung mahasiswa modern, barangkali keresahan yang sukar untuk dijelaskan adalah memahami memahami bagaimana seharusnya kuliah dijalankan dengan penuh makna. Saat lulus sekolah menengah atas kita bercita-cita untuk masuk ke dalam universitas impian kita yang kita harapkan akan menjadi batu loncatan kepada cita-cita tertinggi kita. Namun, saat diterima tak jarang kita merasa salah jurusan, tidak memiliki motivasi, dan pada akhirnya kehilangan makna atas segalanya. Sementara kita perlahan-lahan kehilangan makna, di sisi lain ada keengganan untuk mempertanyakan hal paling dasar dari masalah ini yaitu mempertanyakan makna dan mencarinya. Di sinilah kita bertemu dengan Sisyphus yang telah dihukum dewa untuk mengulingkan batu besar melebihi dirinya ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh Kembali lalu akan mengulanginya sampai akhir hayatnya. Kita barangkali adalah Sisyphus , terjebak ke dalam siklus yang itu-itu saja.

Setiap semester, kita mendorong "batu" bernama kurikulum. Kita mengambil mata kuliah yang tidak kita pahami relevansinya, mengerjakan tugas yang hanya bermuara pada angka, dan mengejar IPK yang seolah-olah menjadi tujuan akhir. Seperti Sisyphus yang harus turun kembali setelah batu mencapai puncak, kita pun mengulangi siklus yang sama setiap semester: registrasi, masuk kelas, ujian, lalu libur - hanya untuk memulai lagi dari awal. Yang membuatnya semakin absurd adalah bahwa kita tahu betul bahwa banyak dari apa yang kita pelajari tidak akan berguna dalam kehidupan nyata. Kita sadar bahwa sistem pendidikan tinggi telah menjadi semacam ritus peralihan yang wajib dijalani, terlepas dari apakah ia benar-benar mendidik atau tidak. Tapi seperti Sisyphus yang terus mendorong batunya, kita pun terus berjalan, menundukkan kepala, menerima nasib.

Camus menulis bahwa "there is no fate that cannot be surmounted by scorn." Mungkin inilah pelajaran terbesar bagi mahasiswa. Ketika kita menyadari bahwa sistem ini absurd, kita justru menemukan kebebasan. Kebebasan untuk memaknai proses pendidikan sesuai dengan nilai-nilai kita sendiri. Kebebasan untuk memilih mana yang penting dan mana yang tidak. Kebebasan untuk menjadi Sisyphus yang sadar - yang tahu bahwa usahanya sia-sia, tetapi tetap memilih untuk menemukan makna dalam kesia-siaan tersebut. Beberapa mahasiswa menemukan caranya sendiri untuk memberontak. Mereka bolos bukan karena malas, tetapi untuk menghadiri seminar yang benar-benar mereka minati. Mereka tidak mengerjakan tugas dengan baik bukan karena tidak mampu, tetapi karena menolak logika komodifikasi pendidikan. Mereka adalah Sisyphus yang tersenyum sinis sambil mendorong batu - menerima hukumannya, tetapi menolak untuk mengambilnya secara serius.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menjalani kuliah yang absurd ini? Mungkin jawabannya terletak pada kemampuan untuk menemukan makna dalam hal-hal kecil. Dalam diskusi dengan teman di warung kopi setelah kelas. Dalam buku yang tidak ada dalam silabus tetapi mengubah cara pandang kita. Dalam dosen yang meskipun mengajar dengan membosankan, tetapi sesekali mengatakan sesuatu yang menyentuh jiwa. Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia, kata Camus. Kita pun harus membayangkan mahasiswa yang bahagia - bukan karena sistem pendidikannya masuk akal, tetapi justru karena mereka telah menerima ketidakmasukakalannya, dan memilih untuk tetap melanjutkan dengan kesadaran penuh. Kuliah memang absurd, tapi hidup sendiri pun absurd. Dan dalam keabsurdan itulah kita menemukan kebebasan sejati - kebebasan untuk menciptakan makna kita sendiri, terlepas dari segala kesia-siaan yang mengelilingi kita.

Penulis: Muhammad Islah Syafi'i


Posting Komentar untuk "Esai Bulan November: "KULIAH ITU ABSURD""