Etalase Identitas: Mengapa Kita Terobsesi Menjadi ‘Aesthetic’ di Media Sosial


Di era kontemporer, media sosial telah bertransformasi dari sekadar alat komunikasi menjadi sebuah panggung sandiwara digital yang megah. Kita sering menyaksikan bagaimana seseorang rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengatur komposisi objek di atas meja kafe, memilih filter yang konsisten, atau menyelaraskan warna palet pada grid Instagram mereka. Fenomena ini dikenal dengan pengejaran nilai "aesthetic". Secara semantik, estetika berkaitan dengan keindahan, namun dalam ekosistem digital, aesthetic telah menjadi mata uang sosial. Obsesi ini bukan sekadar hobi visual, melainkan sebuah upaya sistematis dalam mengonstruksi identitas di balik layar gawai.

Obsesi terhadap estetika digital berakar pada keinginan manusia untuk memiliki kendali penuh atas persepsi publik. Dalam sosiologi, konsep ini sejalan dengan teori Impression Management dari Erving Goffman, di mana individu melakukan pertunjukan untuk membangun citra tertentu. Di dunia nyata, identitas kita seringkali berantakan dan tidak terduga. Namun, di media sosial, kita bertindak sebagai kurator sekaligus editor bagi hidup kita sendiri. Kita hanya menampilkan potongan-potongan hidup yang dianggap "layak jual" secara visual. Dengan menciptakan standar aesthetic yang konsisten, seseorang sedang mengirimkan pesan implisit tentang kelas sosial, selera seni, hingga stabilitas emosionalnya. Seolah-olah, jika sebuah hidup terlihat indah di layar, maka hidup tersebut dianggap sukses dan bahagia secara objektif.

Lebih jauh lagi, obsesi ini didorong oleh komodifikasi diri dalam ekonomi perhatian (attention economy). Algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten dengan kualitas visual yang tinggi dan komposisi yang rapi. Ketika sebuah unggahan dianggap aesthetic, ia akan mendapatkan validasi berupa likes dan followers yang lebih banyak. Validasi ini memicu pelepasan dopamin di otak, yang menciptakan siklus ketergantungan. Akibatnya, identitas tidak lagi tumbuh secara organik dari dalam diri, melainkan didefinisikan oleh apa yang disukai oleh audiens. Kita mulai melihat diri kita bukan sebagai subjek, melainkan sebagai sebuah merek (brand) yang harus dijaga estetika dan konsistensinya agar tetap relevan di pasar digital.

Namun, di balik keindahan etalase tersebut, terdapat risiko hilangnya autentisitas. Tekanan untuk selalu tampil sempurna menciptakan apa yang disebut sebagai digital burnout. Banyak individu merasa cemas ketika kehidupan nyata mereka tidak seindah apa yang mereka tampilkan di media sosial. Terjadi kesenjangan lebar antara "diri yang dipresentasikan" dengan "diri yang senyata-nyatanya". Ruang publik digital yang seharusnya menjadi tempat pertukaran ide, kini sering kali hanya menjadi sekumpulan fasad yang kosong, di mana estetika mengalahkan substansi. Kita terjebak dalam standar keindahan yang seragam, yang pada akhirnya mematikan keunikan individu demi keseragaman tren global.

Alhasil, obsesi menjadi aesthetic adalah cerminan dari adaptasi manusia terhadap budaya visual yang dominan. Media sosial telah menyediakan etalase bagi setiap orang untuk memamerkan identitas yang telah diatur sedemikian rupa. Meskipun pencarian keindahan adalah hal yang manusiawi, kita perlu menyadari bahwa identitas sejati manusia jauh lebih kompleks dan "berantakan" dari pada sekadar barisan foto di layar ponsel. Kehidupan yang bermakna tidak selalu harus terlihat cantik di depan kamera; ia sering kali ditemukan pada momen-momen mentah yang tidak sempat kita abadikan karena kita terlalu sibuk menikmatinya.


Penulis: Cahya Wulan Sari


Posting Komentar untuk "Etalase Identitas: Mengapa Kita Terobsesi Menjadi ‘Aesthetic’ di Media Sosial"