Indonesia sedang berada pada
fase penting dalam sejarah pembangunannya, yaitu menghadapi bonus demografi. Di
satu sisi, kondisi ini membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi melalui
tenaga kerja produktif. Namun di sisi lain, kualitas
pendidikan yang belum merata justru menjadi ancaman serius. Fenomena “learning
poverty” atau ketidakmampuan memahami bacaan dasar pada usia sekolah
menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjadi fondasi kuat bagi
pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan analisis kritis terhadap
hubungan pendidikan dan ekonomi agar kebijakan yang diambil tidak hanya
bersifat kuantitatif, tetapi juga berkualitas.
Yang terjadi saat ini adalah
adanya ketimpangan antara peningkatan akses pendidikan dengan kualitas hasil
belajar. Meskipun angka partisipasi sekolah meningkat, kualitas pembelajaran masih rendah. Banyak lulusan yang belum memiliki keterampilan yang relevan dengan
kebutuhan dunia kerja, sehingga menimbulkan fenomena skill mismatch.
Permasalahan ini
melibatkan berbagai aktor, mulai dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan, institusi pendidikan sebagai pelaksana, hingga guru sebagai
ujung tombak proses pembelajaran. Selain itu, dunia industri juga berperan
sebagai pengguna tenaga kerja, sementara siswa dan masyarakat menjadi pihak
yang secara langsung merasakan dampak dari kualitas pendidikan tersebut.
Masalah ini terjadi secara luas di
Indonesia, tetapi lebih terasa di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar
(3T). Kesenjangan akses terhadap teknologi, fasilitas pendidikan, serta
distribusi tenaga pendidik yang tidak merata menjadi faktor utama yang memperlebar
perbedaan kualitas pendidikan antarwilayah.
Permasalahan ini sebenarnya telah berlangsung cukup lama,
namun menjadi semakin terlihat sejak pandemi COVID-19. Peralihan mendadak ke
pembelajaran daring memperlihatkan ketidaksiapan sistem pendidikan dalam
menghadapi krisis, yang kemudian berdampak pada penurunan capaian belajar siswa
hingga saat ini. Permasalahan ini tidak muncul secara tiba-tiba,
melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Kurikulum
yang belum sepenuhnya adaptif terhadap
kebutuhan industri menyebabkan lulusan kurang siap menghadapi dunia kerja.
Di sisi lain, kualitas guru yang belum merata, terutama dalam
penguasaan teknologi, memperburuk proses pembelajaran. Ketimpangan
infrastruktur pendidikan juga menjadi hambatan besar, khususnya di daerah
terpencil. Selain itu, minimnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia
usaha membuat lulusan tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan
pasar kerja. Kondisi ini pada akhirnya menyebabkan pendidikan belum mampu
berfungsi secara optimal sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
Lebih jauh lagi, pendekatan pembangunan pendidikan di
Indonesia masih cenderung berorientasi pada kuantitas dibandingkan kualitas. Fokus pada peningkatan angka partisipasi
sekolah sering kali tidak diimbangi dengan peningkatan mutu pembelajaran. Hal
ini menciptakan gambaran seolah-olah pendidikan telah berkembang pesat, padahal
secara substansi belum terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang signifikan.
Di era digital, tantangan pendidikan semakin kompleks.
Dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan kemampuan akademik dasar, tetapi juga
keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital.
Sayangnya, sistem pendidikan masih banyak menekankan pada metode hafalan
dibandingkan pengembangan keterampilan tersebut. Akibatnya, lulusan menjadi
kurang adaptif terhadap perubahan dan tuntutan ekonomi global.
Pendidikan di Indonesia saat ini berada di
persimpangan jalan: menjadi solusi bagi pertumbuhan ekonomi
atau justru menjadi
penghambat. Tanpa perbaikan kualitas yang serius, bonus demografi berpotensi berubah menjadi
beban demografi. Oleh karena itu, transformasi pendidikan harus dilakukan
secara menyeluruh dengan menekankan pada kualitas, relevansi, dan pemerataan.
Dengan langkah tersebut, pendidikan dapat berperan sebagai fondasi utama dalam
mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Nurjihan Ufairah Qadri
.jpeg)
Posting Komentar untuk "Pendidikan di Persimpangan Jalan: Antara Janji Bonus Demografi dan Ancaman “Learning Poverty” dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia"