Generasi Screenshot: Mengapa Kita Menyimpan Segalanya?


 “Digital hoarding is characterized by an excessive accumulation of digital files and a reluctance to delete them, resulting in cluttered and disorganized digital spaces” (Zaremohzzabieh et al., 2024).

Pernah tidak kamu merasa ponsel sudah penuh, tapi justru bingung harus menghapus apa? Foto-foto lama masih disimpan karena “kenangan”, screenshot tugas yang sudah dikumpulkan tetap ada karena “siapa tahu nanti dibutuhkan”, sampai file-file random yang bahkan kamu sendiri sudah lupa kapan menyimpannya. Tanpa disadari, kebiasaan ini hampir dialami oleh banyak orang, terutama mahasiswa.

Fenomena ini dikenal sebagai digital hoarding, yaitu kebiasaan menyimpan file digital dalam jumlah berlebihan dan merasa sulit untuk menghapusnya, meskipun file tersebut sudah tidak digunakan lagi. Menurut Sedera dan Lokuge (2022), kondisi ini muncul seiring dengan semakin mudahnya penyimpanan digital, baik di ponsel maupun cloud, sehingga orang merasa “tidak ada alasan untuk menghapus”.

Dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, fenomena ini sangat dekat. Misalnya, screenshot materi kuliah yang sebenarnya sudah ada di slide dosen, file PDF dari berbagai sumber yang bahkan tidak pernah dibuka lagi, atau catatan dari mata kuliah semester lalu yang masih tersimpan “untuk jaga-jaga”. Bahkan, tidak sedikit yang merasa cemas jika menghapus sesuatu karena takut suatu saat akan dibutuhkan.

Penelitian oleh Zaremohzzabieh et al. (2024) menunjukkan bahwa mahasiswa termasuk kelompok yang paling rentan mengalami digital hoarding. Hal ini dipengaruhi oleh fear of missing out (FOMO), rasa tidak ingin kehilangan informasi penting, serta kelelahan dalam memilah data yang semakin menumpuk setiap hari. Akibatnya, banyak orang akhirnya memilih menyimpan semuanya daripada harus memutuskan apa yang perlu dihapus.

Fenomena ini juga terjadi hampir di semua aktivitas digital. Di satu sisi, kita ingin perangkat tetap rapi dan cepat. Namun di sisi lain, kita terus menambah file baru setiap hari tanpa benar-benar menyortir yang lama. Lama-kelamaan, ruang penyimpanan terasa penuh bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara mental karena terlalu banyak hal yang harus “dikelola”.

Meskipun terlihat sederhana, digital hoarding bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari. Ketika file terlalu banyak dan tidak teratur, kita justru lebih sulit menemukan informasi penting saat dibutuhkan. Waktu terbuang hanya untuk mencari satu dokumen di antara ratusan file lain. Hal ini secara tidak langsung juga memengaruhi produktivitas, terutama dalam dunia perkuliahan yang serba cepat.

International Energy Agency (2024) bahkan mencatat bahwa pertumbuhan data digital global juga berdampak pada meningkatnya penggunaan energi untuk pusat data (data center). Artinya, kebiasaan kita menyimpan file tanpa seleksi tidak hanya berdampak pada perangkat pribadi, tetapi juga berkontribusi pada kebutuhan energi digital dalam skala global.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Salah satu langkah sederhana adalah melakukan digital decluttering, yaitu membersihkan file secara berkala. Tidak semua screenshot harus disimpan, tidak semua foto harus disimpan, dan tidak semua file harus “diarsipkan untuk nanti”. Kita bisa mulai dengan menghapus file yang sudah jelas tidak dibutuhkan, mengelompokkan dokumen penting, dan membiasakan diri untuk tidak langsung menekan tombol “simpan” tanpa berpikir.

Pada akhirnya, kita hidup di era di mana menyimpan sesuatu menjadi sangat mudah, tetapi melepaskan justru menjadi hal yang sulit. Digital hoarding mengingatkan kita bahwa yang membuat perangkat penuh bukan hanya kapasitas memori, tetapi juga kebiasaan kita sendiri. Mungkin saatnya kita bertanya: apakah semua yang kita simpan benar-benar penting, atau hanya karena kita terlalu takut untuk menghapusnya?

 

 Referensi

Sedera, D., & Lokuge, S. (2022). Modern-day hoarding: A model for understanding and measuring digital hoarding. Information & Management, 59(8), 103700. https://doi.org/10.1016/j.im.2022.103700

 

International Energy Agency. (2024). Data centres and data transmission networks. https://www.iea.org/energy-system/digitalisation/data-centres-and-data-transmission- networks

Zaremohzzabieh, Z., Abdullah, H., Ahrari, S., Abdullah, R., & Nor, S. M. M. (2024). Exploration of vulnerability factors of digital hoarding behavior among university students. SAGE Open. https://doi.org/10.1177/20552076241226962


Penulis: Audy Azizah

Posting Komentar untuk "Generasi Screenshot: Mengapa Kita Menyimpan Segalanya?"