Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan mahasiswa, terutama melalui penggunaan smartphone yang semakin intensif. Perangkat ini tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah berkembang menjadi sarana hiburan, sumber informasi, sekaligus media pendukung pembelajaran. Kemudahan akses yang ditawarkan smartphone memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa dalam mencari referensi, berkomunikasi, dan mengelola aktivitas akademik. Namun demikian, penggunaan yang tidak terkontrol juga menimbulkan konsekuensi negatif, salah satunya adalah gangguan konsentrasi belajar. Kehadiran notifikasi yang muncul secara berulang sering kali mengalihkan perhatian mahasiswa, sehingga proses belajar menjadi kurang optimal.
Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena nomophobia (no mobile phone phobia), yaitu perasaan cemas atau tidak nyaman ketika individu tidak dapat mengakses smartphone. Nomophobia tidak hanya berdampak pada aspek psikologis, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas belajar, produktivitas akademik, serta kemampuan mahasiswa dalam mempertahankan fokus. Penelitian Salsabila et al., (2024) menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap smartphone berpotensi mengurangi waktu belajar, mengganggu pola tidur, serta menurunkan performa akademik mahasiswa. Dengan demikian, aktivitas belajar di tengah notifikasi dapat dipahami sebagai sebuah “perang sunyi”, yakni pertarungan antara tuntutan untuk tetap fokus pada pembelajaran dan dorongan impulsif untuk terus memeriksa smartphone.
Berdasarkan latar belakang tersebut, esai ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh nomophobia terhadap konsentrasi belajar mahasiswa, mengidentifikasi dampak akademik yang ditimbulkan, serta mengkaji berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan distraksi digital dalam proses pembelajaran.
Nomophobia dan Ketergantungan Smartphone pada Mahasiswa
Nomophobia merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan munculnya rasa cemas, takut, dan gelisah ketika individu tidak dapat menggunakan atau mengakses smartphone. Fenomena ini semakin banyak ditemukan pada kalangan mahasiswa, mengingat smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas akademik maupun kehidupan sosial. Penelitian Aritonang dan Aruan (2021) menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada tingkat nomophobia sedang hingga tinggi, yang mengindikasikan adanya ketergantungan yang cukup kuat terhadap perangkat digital.
Ketergantungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kebutuhan komunikasi yang tinggi, intensitas penggunaan media sosial, serta kecenderungan memanfaatkan smartphone sebagai sarana pelarian dari tekanan akademik. Selain itu, smartphone kerap digunakan sebagai alat multitasking yang menimbulkan persepsi seolah-olah mahasiswa tetap produktif saat belajar sambil menggunakan ponsel. Padahal, perhatian yang terbagi justru dapat menurunkan efektivitas proses kognitif, termasuk pemahaman materi dan daya ingat.
Dalam konteks pendidikan, penggunaan smartphone yang tidak terkontrol berpotensi mengurangi durasi belajar yang efektif serta meningkatkan kecemasan akademik. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi yang seharusnya berperan sebagai pendukung pembelajaran dapat berubah menjadi sumber distraksi yang cukup signifikan apabila tidak dikelola secara bijak.
Pengaruh Nomophobia terhadap Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan individu untuk memusatkan perhatian pada materi pembelajaran secara berkelanjutan. Notifikasi smartphone yang muncul secara berulang dapat mengganggu proses perhatian selektif, sehingga mahasiswa mengalami kesulitan memahami materi secara mendalam. Penelitian pada mahasiswa keperawatan menunjukkan adanya hubungan signifikan antara nomophobia dan tingkat konsentrasi belajar, di mana mahasiswa dengan tingkat nomophobia tinggi cenderung memiliki konsentrasi belajar yang rendah (Puswati & Sari, 2021). Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan untuk terus memeriksa smartphone menghambat kemampuan mahasiswa mempertahankan fokus dalam jangka waktu yang lama.
Selain itu, gejala nomophobia juga berkaitan dengan ketidakmampuan berkonsentrasi selama perkuliahan, menurunnya minat belajar, serta meningkatnya kelelahan mental akibat multitasking digital (Rahayu et al., 2020). Gangguan konsentrasi tersebut tidak hanya memengaruhi pemahaman materi, tetapi juga berdampak pada proses berpikir kritis serta daya ingat mahasiswa. Fenomena ini memperlihatkan bahwa notifikasi smartphone berperan sebagai distraktor kognitif yang dapat mengganggu alur perhatian, bahkan ketika mahasiswa tidak secara aktif menggunakan perangkat tersebut.
Dampak Akademik dan Perilaku Belajar
Gangguan konsentrasi akibat nomophobia memiliki implikasi yang luas terhadap performa akademik mahasiswa. Salah satu dampak yang sering muncul adalah prokrastinasi akademik, yaitu kecenderungan menunda tugas karena terdistraksi oleh aktivitas digital. Penelitian Aulia et al., (2023) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara nomophobia dan perilaku prokrastinasi akademik, di mana mahasiswa dengan tingkat nomophobia tinggi cenderung menunda pengerjaan tugas dan aktivitas belajar.
Selain kecenderungan menunda tugas, nomophobia juga dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik karena mahasiswa kehilangan waktu belajar yang efektif serta mengalami gangguan tidur akibat penggunaan smartphone berlebihan. Kondisi ini menunjukkan bahwa distraksi digital tidak hanya berdampak pada proses belajar, tetapi juga pada manajemen waktu dan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Lebih lanjut, penggunaan smartphone sebagai mekanisme pelarian dari kesepian atau stres akademik dapat memperkuat ketergantungan digital dan memperparah gangguan konsentrasi (Fahira et al., 2021). Hal ini memperlihatkan bahwa faktor emosional juga berperan dalam memperkuat siklus nomophobia dan distraksi belajar.
Strategi Mengatasi Distraksi Digital dalam Pembelajaran
Mengatasi gangguan konsentrasi akibat smartphone memerlukan pendekatan yang melibatkan kesadaran diri, pengelolaan teknologi, serta strategi pembelajaran yang adaptif. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah penerapan digital self-regulation, yaitu kemampuan individu untuk mengontrol penggunaan smartphone selama proses belajar. Mahasiswa dapat menerapkan teknik seperti mematikan notifikasi, menggunakan aplikasi pengatur waktu belajar, serta menerapkan metode belajar terstruktur seperti teknik Pomodoro.
Selain itu, menciptakan lingkungan belajar yang bebas distraksi juga dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan kualitas pemahaman materi. Dari sisi institusi pendidikan, penting untuk meningkatkan literasi digital mahasiswa agar mampu menggunakan teknologi secara produktif. Smartphone seharusnya dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai sumber gangguan yang menurunkan kualitas akademik.
Kesimpulan
Fenomena belajar di tengah notifikasi mencerminkan konflik antara kebutuhan fokus akademik dan ketergantungan terhadap smartphone. Nomophobia terbukti memiliki hubungan signifikan dengan gangguan konsentrasi belajar, prokrastinasi akademik, serta penurunan performa akademik mahasiswa. Notifikasi smartphone berperan sebagai distraktor kognitif yang menghambat perhatian berkelanjutan, sehingga mengurangi efektivitas proses belajar.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran individu dan strategi pengelolaan teknologi untuk mengurangi distraksi digital. Mahasiswa perlu mengembangkan kontrol diri dalam penggunaan smartphone, sementara institusi pendidikan perlu mendorong literasi digital yang sehat. Dengan demikian, teknologi dapat kembali berfungsi sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai hambatan dalam mencapai prestasi akademik.
Penulis: Wawan Andi Saputra
Referensi
Aritonang, N., & Aruan, R. (2021). Gambaran Nomophobia Pada Mahasiswa di Universitas HKBP Nommensen Medan. Jurnal Psikologi Pendidikan Indonesia, 10(2), 112–121.
Aulia, E. S., Mekeama, L., & Mawari, I. (2023). Hbungan Nomophobia (No Mobile Phone Phobia)Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Programstudi Keperawatan Fkik Universitas Jambi. Jurnal Ners Universitas Pahlawan, 7(2), 1023–1030.
Fahira, Z., Rahman, A., & Putri, D. (2021). Kesepian Dan Nomophobia Pada Mahasiswa Pengguna Smartphone. Gadjah Mada Journal of Psychology, 7(1), 55–67.
Puswati, D., & Sari, N. (2021). Hubungan Nomophobia Dengan Konsentrasi Belajar Mahasiswa S1 Keperawatan Stikes Payung Negeri Pekanbaru. Jurnal Healthcare Technology and Medicine, 7(2), 389–396.
Rahayu, D. P., Nuqul, F. L., & Khotimah, H. (2020). Pengaruh Nomophobia Terhadap Academic Failure Pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi Terapan, 8(1), 34–42.
Salsabila, T., Meidianawaty, V., Fachrudin, D., (2024). Hubungan Nomophobia Dengan Prestasi Akademik Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan, 9(1), 15–22.
Posting Komentar untuk "Essai Bulan Februari 2026: "Perang Sunyi Antara Fokus Dan Smartphone""