Sebagai individu di era modern yang mengutamakan kemandirian, kita semua seringkali menjadi korban kebahagiaan internal dan dogma “self-made” ini.
Kemandirian sangat dihargai di zaman kita. Slogan
"self-made" dan cerita tentang kebahagiaan yang harus ditemukan
sendiri telah berubah menjadi dogma baru. Saat seseorang dapat menikmati kopi
di sudut kafe sendirian atau melakukan perjalanan jauh tanpa teman bicara, ada
semacam kebanggaan, dikutip
Dalam
kesendirian yang posistif dan tenang ternyata bisa menimbulkan paradoks-ketika
sebuah momen puncak kebahagian atau keindahan yang dialami oleh individu akan
terasa hampa jika di alami sendiri, meskipun ada kebiasaan yang memuja
kemandirian. Paradoks ini sering terjadi di tempat-tempat yang biasanya dirasa
nyaman oleh individu, seperti ruang pribadi atau kedai kopi yang sepi, di mana
kenyamanan kesendirian terasa sangat nyata, tapi
Hal
yang sangat tidak baik Ketika mengatakan “cukup dengan diri kita sendiri”.
Manusia secara biologis dan psikologis diciptakan untuk berinteraksi satu sama
lain. Manusia pada dasarnya punya 3 kebutuhan psikologis, salah satunya adalah
Keterkaitan (Relatedness) yang menekankan bahwa hubungan yang hangat dan
bermakna dengan orang lain adalah kebutuhan
Sendiri memang menyenangkan, tetapi kita sering mengabaikan garis tipis pembeda dari kesendirian yang posistif dan kespian. Kenyamanan sendirian seringkali hanyalah perlindungan untuk menutupi rasa sepi. Kesepian bukan berarti kita tidak mampu mandiri ataupun sebaliknya, itu adalah pengingat bahwa kapasitas kita untuk mencintai dan dipahami tidak bisa dipenuhi oleh diri kita sendiri. Salah satu cara untuk mengingkari hakikat kemanusiaan kita adalah dengan menolak kenyataan bahwa kita merasa sepi.
Pada akhirnya, mengakui kesepian di tengah kenyamanan kesendirian bukanlah kelemahan. Itu adalah jenis keberanian terbaik. Kita bisa menikmati waktu sendiri, menghargai ruang pribadi, namun tetap memungkinkan orang lain untuk hadir. Karena pada dasarnya, hidup yang bermakna adalah mencapai keseimbangan antara kebutuhan untuk saling memiliki dan kekuatan kita sendiri.
Penulis: Arjun
Referensi
John T. Cacioppo et al. (2018). Chapter Three - Loneliness in the Modern Age: AnEvolutionary Theory of Loneliness (ETL), 127-197.
Philbrick, B. G. (2026, februari 4). The Glory of Solitude. Retrieved fromMedium:https://bradgphilbrick.medium.com/the-glory-of-being-alone-d0098b3fed29
Ryan & Deci. (n.d.). Self-Determination Theory (SDT). Retrieved from rudyct.com: https://rudyct.com/ab/Deci.dan.Ryan-Self-Determination.Theory(SDT).pdf
Williams, R. (2025, Oct 8). Reclaiming Solitude: The Science of Being Alone When Everything Demands Your Attention. Retrieved from Medium:https://raybwilliams.medium.com/reclaiming-solitude-the-science-of-being-alone-when-everything-demands-your-attention-6e4243cdab84
Posting Komentar untuk "Essai Bulan Februari 2026: "Sendiri adalah Hal yang Menyenangkan, Tapi Terlalu Naif untuk Mengatakan Tidak Kesepian""