Essai Bulan Februari 2026: "Sendiri adalah Hal yang Menyenangkan, Tapi Terlalu Naif untuk Mengatakan Tidak Kesepian"


Sebagai individu di era modern yang mengutamakan kemandirian, kita semua seringkali menjadi korban kebahagiaan internal dan dogma “self-made” ini(Williams, 2025) ahli psikologi menyebutkan kebahagiaan yang harus ditemukan di dalam diri sendiri adalah mitos yang di promosikan media dan self-hepl, Ray Wiliams menunjukkan bahwa manusia adalah biologi yang dirancang untuk berinteraksi sosial, bukan isolasi total.

Kemandirian sangat dihargai di zaman kita. Slogan "self-made" dan cerita tentang kebahagiaan yang harus ditemukan sendiri telah berubah menjadi dogma baru. Saat seseorang dapat menikmati kopi di sudut kafe sendirian atau melakukan perjalanan jauh tanpa teman bicara, ada semacam kebanggaan, dikutip (Philbrick, 2026) menuliskan Paul Tillich mengatakan Solitude expresses the glory of being alone”. Paul Tilich mengatakan bahwa, kesendirian positif (solitude) adalah kemewahan karena memberikan ruang bagi pikiran untuk bernafas tanpa intrupsi luar dunia pikiran kita.

Dalam kesendirian yang posistif dan tenang ternyata bisa menimbulkan paradoks-ketika sebuah momen puncak kebahagian atau keindahan yang dialami oleh individu akan terasa hampa jika di alami sendiri, meskipun ada kebiasaan yang memuja kemandirian. Paradoks ini sering terjadi di tempat-tempat yang biasanya dirasa nyaman oleh individu, seperti ruang pribadi atau kedai kopi yang sepi, di mana kenyamanan kesendirian terasa sangat nyata, tapi (John T. Cacioppo et al., 2018) mengatakan jiwa manusia akan selalu mencari pantulan pada orang lain atau social mirroring.

Hal yang sangat tidak baik Ketika mengatakan “cukup dengan diri kita sendiri”. Manusia secara biologis dan psikologis diciptakan untuk berinteraksi satu sama lain. Manusia pada dasarnya punya 3 kebutuhan psikologis, salah satunya adalah Keterkaitan (Relatedness) yang menekankan bahwa hubungan yang hangat dan bermakna dengan orang lain adalah kebutuhan (Ryan & Deci).

Sendiri memang menyenangkan, tetapi kita sering mengabaikan garis tipis pembeda dari kesendirian yang posistif dan kespian. Kenyamanan sendirian seringkali hanyalah perlindungan untuk menutupi rasa sepi. Kesepian bukan berarti kita tidak mampu mandiri ataupun sebaliknya, itu adalah pengingat bahwa kapasitas kita untuk mencintai dan dipahami tidak bisa dipenuhi oleh diri kita sendiri. Salah satu cara untuk mengingkari hakikat kemanusiaan kita adalah dengan menolak kenyataan bahwa kita merasa sepi.

Pada akhirnya, mengakui kesepian di tengah kenyamanan kesendirian bukanlah kelemahan. Itu adalah jenis keberanian terbaik. Kita bisa menikmati waktu sendiri, menghargai ruang pribadi, namun tetap memungkinkan orang lain untuk hadir. Karena pada dasarnya, hidup yang bermakna adalah mencapai keseimbangan antara kebutuhan untuk saling memiliki dan kekuatan kita sendiri.

Penulis: Arjun

Referensi 

John T. Cacioppo et al. (2018). Chapter Three - Loneliness in the Modern Age: AnEvolutionary             Theory of Loneliness (ETL), 127-197.

Philbrick, B. G. (2026, februari 4). The Glory of Solitude. Retrieved fromMedium:https://bradgphilbrick.medium.com/the-glory-of-being-alone-d0098b3fed29

Ryan & Deci. (n.d.). Self-Determination Theory (SDT). Retrieved from rudyct.com: https://rudyct.com/ab/Deci.dan.Ryan-Self-Determination.Theory(SDT).pdf

Williams, R. (2025, Oct 8). Reclaiming Solitude: The Science of Being Alone When Everything Demands Your Attention. Retrieved from Medium:https://raybwilliams.medium.com/reclaiming-solitude-the-science-of-being-alone-when-everything-demands-your-attention-6e4243cdab84

 

 

 

 

  

Posting Komentar untuk "Essai Bulan Februari 2026: "Sendiri adalah Hal yang Menyenangkan, Tapi Terlalu Naif untuk Mengatakan Tidak Kesepian""