A. Pendahuluan
Perkembangan media sosial mengubah cara publik memahami kepemimpinan politik. Masyarakat tidak hanya menilai pemimpin dari kebijakan dan kinerja, tetapi juga dari citra personal yang ditampilkan di ruang digital. Penampilan, gaya komunikasi, serta ekspresi emosional menjadi bagian yang ikut membentuk persepsi publik terhadap figur pemimpin. Kondisi ini semakin terlihat pada pemimpin perempuan yang sering kali dinilai melalui atribut feminin seperti kelembutan, kecantikan, dan cara berinteraksi dengan masyarakat. Dalam konteks ini, kecantikan tidak lagi dipahami sebagai aspek personal semata, tetapi juga sebagai bagian dari representasi kepemimpinan yang memengaruhi legitimasi publik.
Fenomena tersebut tampak pada figur Sherly Tjoanda Laos sebagai Gubernur Maluku Utara. Kehadirannya menarik perhatian karena memadukan latar belakang bisnis, posisi politik, dan citra personal yang feminin. Publikasi di media sosial memperlihatkan gaya komunikasi yang santai, ekspresif, dan dekat dengan masyarakat. Respons publik kemudian banyak menyoroti karakter imut, centil, dan kesan seperti princess yang melekat pada dirinya. Persepsi tersebut tidak hanya menjadi komentar spontan, tetapi berkembang menjadi cara masyarakat membaca karakter kepemimpinannya. Situasi ini menghadirkan pertanyaan menarik mengenai bagaimana kecantikan, personal branding, dan kekuasaan saling berinteraksi dalam membentuk representasi kepemimpinan perempuan.
B. Isi dan Pembahasan
Citra feminin dalam kepemimpinan perempuan sering dipahami sebagai sesuatu yang bertolak belakang dengan otoritas politik. Kepemimpinan biasanya diasosiasikan dengan karakter tegas, rasional, dan maskulin. Namun perkembangan komunikasi digital menunjukkan adanya perubahan. Pemimpin perempuan justru dapat memanfaatkan feminitas sebagai kekuatan simbolik untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Gaya komunikasi yang lembut, ekspresi ramah, dan tampilan visual yang menarik mampu menciptakan kesan pemimpin yang mudah didekati. Dalam situasi ini, kecantikan tidak hanya berfungsi sebagai atribut personal, tetapi juga menjadi bagian dari strategi komunikasi politik.
Figur Sherly Tjoanda Laos memperlihatkan dinamika tersebut. Ia tampil dengan gaya komunikasi yang santai, senyum yang konsisten, serta ekspresi yang dinilai publik sebagai imut dan centil. Konten yang dibagikan memperlihatkan interaksi langsung dengan masyarakat, kegiatan lapangan, serta momen yang menunjukkan sisi personalnya. Pola komunikasi seperti ini membentuk kedekatan emosional yang berbeda dengan model kepemimpinan formal. Publik kemudian merespons dengan narasi yang menempatkannya sebagai figur pemimpin perempuan yang lembut namun tetap memiliki posisi kekuasaan. Citra tersebut secara tidak langsung membangun karakter kepemimpinan yang unik dan mudah dikenali.
Fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk feminisme yang tidak selalu tampil dalam karakter maskulin. Kepemimpinan perempuan tidak harus meniru gaya kepemimpinan laki laki untuk memperoleh legitimasi. Feminitas justru dapat menjadi identitas yang memperkuat representasi kepemimpinan. Sikap lembut, ekspresi ceria, dan komunikasi yang hangat dapat membangun hubungan emosional dengan masyarakat. Dalam konteks ini, kesan imut atau centil tidak selalu mengurangi otoritas, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi membangun citra pemimpin yang humanis. Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan politik dapat berjalan berdampingan dengan identitas feminin.
Namun kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan. Fokus publik pada penampilan dan karakter personal berpotensi menggeser perhatian dari substansi kepemimpinan. Pemimpin perempuan sering kali lebih banyak dibahas dari sisi visual dibandingkan kebijakan yang diambil. Situasi ini memperlihatkan adanya ketegangan antara citra dan kompetensi. Di satu sisi, personal branding membantu memperkuat kedekatan dengan masyarakat. Di sisi lain, perhatian berlebihan pada aspek visual dapat mengaburkan diskusi mengenai kinerja. Dalam kasus Sherly Tjoanda Laos, komentar publik yang menekankan kesan princess atau imut menunjukkan bahwa representasi feminin menjadi bagian dominan dalam membentuk persepsi kepemimpinannya.
Di tengah kondisi tersebut, hubungan antara kecantikan, branding, dan kekuasaan menjadi semakin jelas. Kecantikan membentuk daya tarik visual, personal branding mengemas citra tersebut secara konsisten, dan kekuasaan memberikan legitimasi politik. Ketiganya saling berinteraksi dalam membangun representasi kepemimpinan perempuan. Figur Sherly Tjoanda Laos memperlihatkan bahwa citra feminin dapat berfungsi sebagai soft power yang memperkuat kedekatan dengan masyarakat. Gaya komunikasi yang santai dan ekspresif menciptakan kesan pemimpin yang tidak berjarak, sementara posisi politik yang dimiliki tetap menunjukkan otoritas formal. Kombinasi ini membentuk model kepemimpinan perempuan yang berbeda dari pola konvensional.
C. Kesimpulan
Representasi kepemimpinan perempuan di era digital mengalami perubahan yang signifikan. Kecantikan dan feminitas tidak lagi dipandang sebagai hambatan dalam politik, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi yang membangun kedekatan dengan masyarakat. Figur Sherly Tjoanda Laos memperlihatkan bagaimana citra imut, lembut, dan ekspresif dapat berjalan berdampingan dengan posisi kekuasaan. Personal branding yang konsisten di media sosial membentuk karakter kepemimpinan yang mudah dikenali dan diterima publik.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak harus identik dengan karakter maskulin. Feminitas dapat menjadi kekuatan simbolik yang membangun hubungan emosional sekaligus mempertahankan otoritas politik. Namun perhatian publik yang terlalu berfokus pada citra visual juga perlu diimbangi dengan pembahasan mengenai substansi kepemimpinan. Dengan demikian, kecantikan, branding, dan kekuasaan tidak hanya membentuk representasi pemimpin perempuan, tetapi juga menghadirkan model kepemimpinan baru yang lebih adaptif terhadap dinamika politik digital.
Penulis: Mubarika Ramdan
Referensi:
Anggreani, R. N., & Hanife, G. (2025). Analisis personal branding Sherly Tjoanda pada Pilkada Provinsi Maluku Utara 2024 di media sosial Instagram. Jurnal Mediakom,9(1),45–58. https://ejurnal.unmuhjember.ac.id/index.php/mdk/article/view/4449
Ayunda, N. D., Rahman, A., & Putri, M. S. (2025). Strategi kemenangan pasangan Sherly Tjoanda– Sarbin Sehe pada Pilkada Maluku Utara 2024. Indonesian Journal of Social Development, 4(2),112–125. https://journal.pubmedia.id/index.php/jsd/article/view/3940
Brugnoli, E., Simone, R., & Delmastro, M. (2022). Gender stereotypes in mediated personalization of politics. arXiv. https://arxiv.org/abs/2202.03083
Qi, W., Dave, A., & Chen, L. (2025). Adapting public personas: A multimodal study of legislators’ social media strategies. arXiv. https://arxiv.org/abs/2509.10720
Mulawarman, A., Siregar, H., & Kurniawan, D. (2025). Kemenangan pasangan Sherly Tjoanda dan Sarbin Sehe sebagai representasi kelompok minoritas pada pemilihan gubernur Maluku Utara 2024. Jurnal Noken:Ilmu-IlmuSosial,10(1),1–15. https://www.researchgate.net/publication/393358159
Kompas.com. (2025, Februari 20). Profil Sherly Tjoanda,Gubernur Maluku Utara 2025–2030.https://www.kompas.com/sulawesi-selatan/read/2025/02/20/160000988/profil-sherly-tjoanda-gubernur-maluku-utara-2025-2030

Posting Komentar untuk "Essai Bulan Maret 2026: "Beauty, Branding, and Power: Representasi Kepemimpinan Perempuan dalam Figur Sherly Laos""