Benarkah hidup kita ditentukan oleh apa yang kita pikirkan? Jika kita cukup yakin, cukup percaya, dan terus berpikir positif, apakah semua yang kita inginkan akan benar-benar terjadi? Pertanyaan ini semakin sering muncul di tengah banyaknya orang yang percaya pada manifesting. Menulis apa yang diinginkan, membayangkan masa depan, lalu percaya bahwa semua itu akan datang. Kedengarannya tenang. Seolah-olah hidup bisa diarahkan hanya dengan pikiran. Akan tetapi, di balik keyakinan tersebut, tidak sedikit yang tetap menghadapi kegagalan meskipun telah berusaha percaya sepenuhnya.
Merton (1948), seorang ahli sosiologi, menjelaskan bahwa keyakinan dapat memengaruhi tindakan, dan pada akhirnya membentuk kenyataan. Ketika seseorang percaya bisa, ia cenderung bertindak lebih berani, dan dari situ peluang terbuka. Pada titik ini, manifesting tidak sepenuhnya keliru. Namun, ada hal penting yang sering dilupakan: hasil tidak hanya ditentukan oleh pikiran. Realitas menunjukkan bahwa tidak semua orang memulai dari titik yang sama, dan tidak semua usaha langsung menghasilkan keberhasilan. Berdasarkan World Youth Report 2025, kehidupan generasi muda saat ini dipengaruhi banyak hal, seperti kondisi ekonomi, akses pendidikan, dan tekanan sosial. Bahkan, satu dari tujuh remaja mengalami masalah kesehatan mental.
Hal ini menunjukkan bahwa kegagalan tidak selalu berkaitan dengan kurangnya keyakinan. Terkadang, kegagalan terjadi karena waktu yang belum tepat, atau jalan yang memang belum terbuka. Di sinilah manifesting sering disalahpahami. Ia sering dipahami seolah-olah semua yang diinginkan bisa terjadi secara instan, padahal kenyataannya ada dua hal yang berjalan berdampingan: usaha dan doa. Usaha dilakukan melalui tindakan nyata, sementara hasil akhirnya tetap berada di luar kendali manusia. Apa yang tampak sebagai penolakan, bisa jadi hanyalah penundaan. Apa yang terlihat sebagai kegagalan, bisa saja merupakan bentuk pengalihan menuju jalan yang lebih tepat.
Oleh karena itu, manifesting bukan cuma soal berharap, tapi tentang tetap jalan meskipun belum ada hasil. Mimpi tidak akan datang hanya karena dibayangkan, tapi karena dikejar pelan-pelan lewat usaha. Harapan juga tidak cukup dipikirkan, harus dijalankan, meskipun capek, meskipun belum kelihatan hasilnya. Tidak ada yang benar-benar tercapai tanpa usaha. Apa yang diinginkan akan datang pada mereka yang tetap mencoba, dan tidak berhenti meskipun sudah berkali-kali gagal.
Penulis: Salwa Nabilah Assidiq
.jpeg)
Posting Komentar untuk "Essai Bulan Maret 2026: “Katanya Manifesting Itu Nyata, Kenapa Kegagalan Tetap Ada?”"