Kuliah Tinggi-Tinggi, Kenapa Masih Susah Cari Kerja?

Benarkah gelar sarjana masih menjadi tiket menuju pekerjaan yang layak? Selama ini, kuliah sering dianggap sebagai salah satu investasi untuk masa depan. Setelah lulus SMA, banyak orang memilih melanjutkan pendidikan tinggi dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, semakin banyaknya lulusan perguruan tinggi ternyata tidak selalu diikuti dengan semakin mudahnya mendapatkan pekerjaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2026 terdapat sekitar 7,24 juta pengangguran di Indonesia dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,68 persen (Badan Pusat Statistik [BPS], 2026). Yang menarik, pengangguran juga masih ditemukan pada kelompok lulusan perguruan tinggi. Pada Februari 2025, sekitar 1,01 juta penganggur merupakan lulusan perguruan tinggi (Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia [MPR RI], 2025). Lalu, sebenarnya apa yang salah? Apakah terlalu banyak orang yang kuliah, atau justru dunia kerja yang semakin sulit dimasuki?

Menurut saya, masalahnya tidak sesederhana “kebanyakan sarjana”. Jumlah lulusan memang membuat persaingan semakin tinggi, tetapi ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu kesesuaian antara kemampuan lulusan dan kebutuhan dunia kerja. World Bank (2019) menunjukkan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam merespons kebutuhan pasar tenaga kerja. Artinya, seseorang bisa saja memiliki gelar dan nilai akademik yang baik, tetapi belum tentu memiliki keterampilan yang sedang dicari oleh perusahaan.

Di sinilah pengalaman selama kuliah menjadi penting. Mahasiswa tidak cukup hanya mengejar IPK dan menyelesaikan tugas. Pengalaman organisasi, magang, kepanitiaan, proyek, kemampuan berkomunikasi, hingga kemampuan menggunakan teknologi juga dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja. Gelar mungkin membuka pintu, tetapi kemampuanlah yang dapat membantu seseorang bertahan di dalamnya.

Di sisi lain, dunia kerja juga tidak bisa dianggap tetap. Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja terus berubah. World Economic Forum (2025) menyebutkan bahwa perubahan teknologi menjadi salah satu faktor utama yang akan membentuk dunia kerja hingga 2030. Karena itu, lulusan juga dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi, bukan hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh selama kuliah.

Jadi, apakah kuliah masih worth it? Menurut saya, masih. Hanya saja, cara kita memandang gelar sarjana perlu berubah. Kuliah bukan lagi sekadar jalan untuk mendapatkan ijazah, tetapi kesempatan untuk membangun pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi. Fenomena sarjana yang menganggur seharusnya tidak membuat kita menyimpulkan bahwa kuliah sudah tidak berguna. Justru, ini menjadi pengingat bahwa di tengah dunia kerja yang terus berubah, gelar saja memang tidak cukup. 

Penulis: Ariqah Jaesya Pratiwi

Posting Komentar untuk "Kuliah Tinggi-Tinggi, Kenapa Masih Susah Cari Kerja?"