Distraksi VS Kompetensi: Modal Gen Z di Realitas Ekonomi

   


    Generasi Z sering disebut sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi. Mereka tumbuh bersama Internet, Media Sosial, Smartphone, dan sekarang Artificial Intelligence (AI). Teknologi membuat informasi semakin mudah diperoleh, komunikasi semakin cepat, dan berbagai peluang ekonomi semakin terbuka. Namun, kedekatan tersebut juga menghadirkan persoalan baru, dimana hampir semua hal dapat menarik perhatian dalam waktu bersamaan. Apakah Gen Z masih mampu menentukan apa yang benar-benar penting bagi masa depannya?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika membicarakan posisi Gen Z dalam realitas ekonomi.

    Muhammad Amin Azis melalui Notasi Ekonomi: Suara Generasi Z memandang Gen Z bukan sekadar generasi yang hidup di tengah perubahan, tetapi sebagai navigator ekonomi yang memiliki gagasan, aspirasi, dan kemampuan untuk ikut membentuk lanskap sosial-ekonomi. Jika Gen Z diposisikan sebagai navigator, maka persoalannya bukan hanya ke mana teknologi membawa mereka, tetapi apakah mereka mampu menentukan arah perjalanan tersebut. Di sinilah distraksi dan kompetensi bertemu.

    Distraksi digital bukan lagi sekadar persoalan kebiasaan bermain media sosial terlalu lama. Dalam lingkungan yang penuh notifikasi, multitasking, dan arus informasi tanpa henti, perhatian menjadi sumber daya yang mudah terpecah. Penelitian Kertarajasa dan Soemaryani (2026) terhadap pekerja Gen Z di Indonesia menemukan bahwa distraksi teknologi digital meningkatkan beban kognitif dan berpengaruh buruk terhadap produktivitas kerja. Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata berapa lama seseorang berada di depan layar, tetapi apakah waktu dan perhatian tersebut menghasilkan sesuatu yang bernilai. Sebab, waktu yang sama dapat menghasilkan dua hal yang berbeda. Satu jam dapat habis untuk scrolling tanpa tujuan, tetapi satu jam juga dapat digunakan untuk mempelajari data analysis, memperbaiki kemampuan komunikasi, membangun portofolio, membaca perkembangan industri, atau memahami penggunaan AI. Aktivitasnya sama-sama menggunakan perangkat digital, tetapi hasil ekonominya berbeda. Yang satu menghabiskan perhatian, sedangkan yang lain membangun kompetensi.

    Perbedaan inilah yang semakin penting ketika Gen Z memasuki pasar kerja. Dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan orang yang mampu menggunakan teknologi, tetapi mereka yang mampu menggabungkan teknologi dengan kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menyebut analytical thinking sebagai salah satu keterampilan inti yang paling dibutuhkan perusahaan. Sementara itu, AI dan big data, literasi teknologi, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar diperkirakan semakin penting hingga 2030. Artinya, menjadi digital native tidak otomatis membuat seseorang memiliki keunggulan ekonomi. Kemampuan membuka banyak aplikasi tidak sama dengan kemampuan menghasilkan nilai. Begitu pula kemampuan menggunakan AI tidak otomatis menunjukkan kompetensi apabila teknologi tersebut hanya digunakan sebagai jalan pintas untuk menggantikan proses berpikir

    Justru di tengah perkembangan AI, kemampuan manusia untuk berpikir kritis menjadi semakin penting. Teknologi dapat membantu menghasilkan informasi dengan cepat, tetapi manusia tetap harus menentukan apakah informasi tersebut benar, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, kompetensi Gen Z tidak cukup dibangun melalui penguasaan teknologi, tetapi melalui kemampuan mengarahkan teknologi untuk mencapai tujuan. Pada titik ini, distraksi bukan berarti sesuatu yang harus sepenuhnya dihilangkan. Media sosial, internet, dan AI tetap dapat menjadi ruang belajar, membangun jaringan, mencari peluang, bahkan menciptakan pekerjaan. Persoalannya adalah bagaimana Gen Z mengubah posisi dari sekadar konsumen teknologi menjadi pengguna yang produktif. Jika teknologi hanya digunakan untuk konsumsi, Gen Z menjadi pasar. Jika teknologi digunakan untuk membangun pengetahuan, keterampilan, karya, dan inovasi, Gen Z menjadi pelaku ekonomi.

    Karena itu, modal terbesar Gen Z bukan sekadar akses terhadap teknologi melainkan kemampuan dalam mengubah akses menjadi kompetensi. Sebab, dalam realitas ekonomi yang terus berubah, teknologi dapat memberikan peluang kepada siapa saja, tetapi kompetensilah yang menentukan siapa yang mampu mendapatkannya. Menjadi navigator ekonomi berarti tidak membiarkan algoritma menentukan seluruh arah perjalanan. Gen Z perlu memilih apa yang layak mendapatkan perhatian, keterampilan apa yang perlu dikembangkan, dan teknologi apa yang dapat digunakan untuk menciptakan nilai.

    Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Gen Z akan hidup bersama distraksi atau teknologi. Mereka sudah berada di dalamnya. Tantangannya adalah memastikan bahwa di tengah banjir informasi dan kemudahan teknologi tersebut, masih ada waktu untuk belajar, berpikir, dan membangun kompetensi. Sebab, pada akhirnya, masa depan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengikuti teknologi, tetapi siapa yang mampu mengubah teknologi menjadi kompetensi dan kompetensi menjadi sebuah nilai. 

Penulis: Astrid

Posting Komentar untuk "Distraksi VS Kompetensi: Modal Gen Z di Realitas Ekonomi"