“Kita semua adalah pemeran utama, tetapi tidak seorang pun menjadi pusat dari cerita orang lain”
Dalam kehidupan yang serba digital, manusia memiliki ruang yang semakin luas untuk menunjukkan dirinya kepada dunia. Media sosial memungkinkan seseorang membagikan pengalaman, menyampaikan perasaan, membangun citra diri, hingga memperoleh perhatian melalui sebuah unggahan. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk didengar dan dihargai. Perhatian terhadap diri sendiri yang terlalu dominan dapat membuat seseorang mulai melihat berbagai hal seolah selalu berpusat pada dirinya. Pola pikir inilah yang dikenal sebagai Main Character Syndrome (MCS), ketika seseorang menempatkan pengalaman, perasaan, dan kebutuhannya sebagai hal yang paling utama dibandingkan orang lain.
Keinginan menjadi “tokoh utama” tidak selalu muncul tanpa alasan. Bagi sebagian orang, mendapatkan perhatian dapat menjadi cara untuk mengatasi perasaan kurang dihargai atau kurang diperhatikan dalam kehidupan nyata. Ketika perhatian membuat seseorang merasa diterima dan berarti, kebutuhan untuk mendapatkannya dapat terus tumbuh. Kehidupan digital kemudian menyediakan ruang untuk memperoleh validasi melalui jumlah suka, komentar, pengikut, maupun respons positif. Masalah muncul ketika validasi tersebut menjadi ukuran keberhargaan diri. Seseorang tidak lagi sekadar ingin dihargai, tetapi mulai mengharapkan orang lain memahami dirinya, mengutamakan kebutuhannya, dan melihat berbagai hal dari sudut pandangnya.
Pola pikir tersebut dapat memengaruhi hubungan sosial. Ketika perasaan sendiri ditempatkan di atas segalanya, seseorang menjadi mudah tersinggung, menganggap tindakan orang lain berkaitan dengan dirinya, dan sulit menerima kritik. Pesan yang tidak segera dibalas dapat dianggap sebagai pengabaian, pembatalan rencana sebagai tanda tidak dihargai, bahkan perbedaan pendapat dapat dipandang sebagai serangan. Padahal, tidak semua hal tentang kita. Orang lain juga memiliki kesibukan, persoalan, dan alasan yang mungkin tidak pernah kita ketahui. Ketika seseorang terlalu sibuk memahami dirinya sendiri, ia dapat kehilangan kemampuan untuk memahami orang lain.
Di sinilah konsep sonder menjadi penting. Sonder merupakan kesadaran bahwa setiap orang yang kita temui memiliki kehidupan yang sama kompleksnya dengan kehidupan kita. Teman yang terlihat baik-baik saja mungkin sedang menghadapi masalah yang tidak pernah ia ceritakan. Orang yang diam di kelas mungkin sedang memikirkan keluarganya. Bahkan orang asing yang berpapasan di jalan memiliki cerita, kekhawatiran, dan harapannya sendiri. Kesadaran bahwa setiap orang memiliki dunianya masing-masing dapat membantu kita keluar dari cara pandang yang terlalu berpusat pada diri sendiri. Kita mulai memahami bahwa kehidupan tidak hanya berlangsung dalam cerita kita, melainkan juga dalam begitu banyak cerita lain yang berjalan bersamaan.
Pada akhirnya, menjadi tokoh utama dalam kehidupan sendiri bukanlah sesuatu yang salah. Kita tetap berhak memiliki mimpi, kebutuhan, perasaan, dan batasan. Yang perlu dihindari adalah ketika menjadi tokoh utama membuat kita menganggap orang lain hanya sebagai pemeran pendukung. Kita boleh menjadi tokoh utama dalam hidup sendiri, tetapi jangan sampai lupa bahwa setiap orang jpauga sedang memainkan peran utama dalam hidupnya.
Penulis: Dwi Aulia Putri
.png)
Posting Komentar untuk "Main Character Syndrome dan Budaya Self-Centered di Era Digital"