Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi dan memandang kehidupan social (Nur et al., 2024). Media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk menampilkan pencapaian, gaya hidup, dan identitas diri. Di tengah derasnya arus informasi tersebut, muncul fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). FOMO merupakan perasaan takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang sedang dialami oleh orang lain. Fenomena ini semakin relevan, terutama di kalangan generasi muda, dan menjadi salah satu bentuk baru dari kecemasan sosial di era digital(Puspitasari et al., 2025).
Dampak
Fenomena FOMO memberikan dampak signifikan terhadap kondisi psikologis dan sosial individu. Paparan berlebihan terhadap kehidupan orang lain di media sosial dapat memicu perasaan cemas, tidak percaya diri, dan ketidakpuasan terhadap kehidupan pribadi (Puspitasari et al., 2025). Individu yang mengalami FOMO cenderung merasa hidupnya kurang bermakna dibandingkan dengan apa yang ditampilkan orang lain di dunia digital. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan stres, menurunkan kesejahteraan mental, serta mengganggu fokus terhadap aktivitas nyata (Hasanuddin et al., 2024).
Peluang
Di sisi lain, FOMO juga membuka peluang positif apabila disikapi secara bijak. Rasa takut tertinggal dapat memotivasi individu untuk lebih aktif mencari informasi, meningkatkan keterampilan, dan memperluas jaringan social (Hidajat & Putri, 2024). Media sosial memungkinkan akses terhadap berbagai peluang pendidikan, komunitas, dan pengembangan diri yang sebelumnya sulit dijangkau. Dengan pengelolaan yang tepat, FOMO dapat menjadi dorongan untuk berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman (Rizqiyah et al., 2025).
Tantangan
Tantangan utama dari fenomena FOMO adalah bagaimana individu mampu membedakan antara kebutuhan sosial yang sehat dan tekanan sosial yang semu. Standar kehidupan ideal yang ditampilkan di media sosial sering kali tidak realistis dan bersifat selektif. Tantangan lainnya adalah ketergantungan terhadap validasi digital, seperti jumlah like dan komentar, yang dapat memperkuat kecemasan sosial dan mengurangi penghargaan terhadap diri sendiri (Ayu & Safitri, 2025).
Solusi
Untuk mengurangi dampak negatif FOMO, diperlukan upaya dari individu maupun lingkungan sosial. Salah satu solusi utama adalah meningkatkan literasi digital, yaitu kemampuan untuk memahami dan menyikapi konten media sosial secara kritis (Farid, 2023). Individu perlu menyadari bahwa media sosial tidak sepenuhnya mencerminkan realitas kehidupan. Selain itu, membatasi waktu penggunaan media sosial, memperkuat hubungan sosial di dunia nyata, serta mengembangkan rasa syukur dan penerimaan diri dapat membantu mengurangi kecemasan sosial. Peran keluarga dan institusi pendidikan juga penting dalam membangun kesadaran akan kesehatan mental di era digital.
Penutup
Fenomena FOMO merupakan wajah baru dari kecemasan sosial yang muncul seiring dengan pesatnya perkembangan media sosial dan teknologi digital. Meskipun membawa dampak negatif terhadap kesehatan mental, FOMO juga memiliki potensi positif apabila dikelola dengan bijak. Oleh karena itu, sikap kritis, literasi digital, dan kesadaran diri menjadi kunci utama dalam menghadapi fenomena ini. Dengan pendekatan yang tepat, individu dapat memanfaatkan teknologi secara optimal tanpa harus terjebak dalam kecemasan sosial yang berlebihan.
Penulis:Lauria Desinta Indri
Referensi
Nur, D., Ibraya, N. S., & Marsuki, N. R. (2024). Dampak sosiologi digital terhadap perubahan sosial budaya pada masyarakat masa depan. Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial (JUPENDIS), 2(2), 123-135.
Puspitasari, C. A., Kamaludin, M., Pratama, M. R., & Azahra, S. A. (2025). Pengaruh Fenomena Fear Of Missing Out (Fomo) Terhadap Tingkat Kecemasan Dan Kepuasan Hidup Mahasiswa Gen Z Di Media Sosial. Jurnal Intelek Insan Cendikia, 2(1), 1298-1310.
Hasanuddin, H., Azka, I., & Haramain, F. B. (2024). Peran Kecerdasan Emosional dalam Menghadapi Fear of Missing Out (FOMO) pada Remaja. JURNAL PERSPEKTIF PENDIDIKAN, 18(2), 185-203.
Hidajat, H. G., & Putri, R. D. (2024). Motivasi Dan Kreativitas Digital Dalam Kesehatan Mental Akademik. Penerbit NEM.
Rizqiyah, N., Jauhari, A. H., Fawaied, M., & Maudy, M. (2025). REVOLUSI DIGITAL DALAM PENDIDIKAN: Peran Teknologi Dan Media Sosial Dalam Pembelajaran. PENERBIT KBM INDONESIA.
Ayu, N. P., & Safitri, D. (2025). Hubungan Sindrom Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, 3(2), 1-18.
Farid, A. (2023). Literasi digital sebagai jalan penguatan pendidikan karakter di era Society 5.0. Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan, 6(3), 580-597.
Posting Komentar untuk "Essai Bulan Februari 2026: "Fenomena FOMO sebagai Wajah Baru Kecemasan Sosial""