Selama berabad-abad, konstruksi sosial menempatkan perempuan dalam ranah domestik dengan asumsi bahwa pendidikan tinggi tidak memiliki relevansi signifikan bagi perannya. Ungkapan populer seperti “setinggi apa pun pendidikan perempuan, pada akhirnya kembali ke dapur” merefleksikan paradigma patriarkal yang membatasi akses dan partisipasi perempuan dalam ruang publik. Namun, dinamika sosial kontemporer menunjukkan perubahan yang substansial. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai atribut sekunder bagi perempuan, melainkan sebagai fondasi utama dalam membangun kapasitas individu dan kontribusi sosialnya.
Dalam konteks modernitas, pendidikan berfungsi sebagai instrumen transformasi sosial. Melalui akses pendidikan yang lebih luas, perempuan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi, meningkatkan daya saing, serta berpartisipasi dalam berbagai sektor strategis, termasuk politik, ekonomi, sains, dan kepemimpinan global. Pendidikan memberikan otonomi dalam pengambilan keputusan serta memperkuat posisi tawar perempuan dalam struktur sosial yang sebelumnya cenderung eksklusif.
Secara historis, perjuangan atas hak pendidikan perempuan telah diperjuangkan oleh berbagai tokoh. Di Indonesia, R. A. Kartini mengkritisi praktik pingitan dan memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan pribumi pada masa kolonial. Di tingkat global, Malala Yousafzai menjadi simbol perlawanan terhadap pembatasan pendidikan bagi anak perempuan. Kedua figur tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan memiliki implikasi yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga struktural dan transgenerasional.
Dari perspektif ekonomi pembangunan, investasi pendidikan bagi perempuan menghasilkan dampak yang signifikan. Data dari World Bank menunjukkan bahwa setiap tambahan satu tahun pendidikan bagi perempuan berkorelasi dengan peningkatan potensi pendapatan yang signifikan. Peningkatan ini berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, pengurangan tingkat kemiskinan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, perempuan yang berpendidikan cenderung memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kesehatan, nutrisi, dan pendidikan anak, yang secara langsung memengaruhi kualitas generasi berikutnya.
Meskipun demikian, tantangan struktural masih persistens. Di sejumlah wilayah, praktik pernikahan dini, keterbatasan akses pendidikan, serta norma patriarki masih menjadi hambatan utama bagi partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi belum sepenuhnya merata dan masih memerlukan intervensi kebijakan yang sistematis, termasuk penguatan regulasi, penyediaan akses pendidikan yang inklusif, serta perubahan paradigma sosial.
Pendidikan pada hakikatnya tidak bertujuan untuk menghapus peran domestik atau menciptakan "perang" antara gender. Esensi dari pendidikan adalah memberikan pilihan. Seorang perempuan yang memilih berada di dapur karena ia ingin, memiliki martabat yang berbeda dengan perempuan yang berada di dapur karena ia tidak punya pilihan lain.
Ketika seorang perempuan memegang ijazah di satu tangan dan kasih sayang di tangan lainnya, ia sedang memegang kendali atas masa depannya. Transformasi dari dapur ke dunia bukan tentang meninggalkan rumah, tapi tentang membawa wawasan dunia ke dalam rumah dan membawa nilai-nilai kemanusiaan dari rumah ke panggung dunia.
Pendidikan adalah sayap, ia tidak membuat perempuan lupa cara berjalan di bumi, ia hanya memberinya kuasa untuk melihat cakrawala yang lebih luas dan menentukan di mana ia ingin mendarat. Karena pada akhirnya, peradaban yang pincang adalah peradaban yang membiarkan separuh jiwanya terbelenggu dalam ketidaktahuan.
Penulis: Ananda Febriani
Posting Komentar untuk "Essai Februari 2026: "Dari Dapur ke Dunia: Transformasi Perempuan Melalui Pendidikan""